"berat sekali beban yang kau panggul dan lelah pikiran yang kau rasakan pak.
Jika saya adalah basuki , mungkin saya tidak kuat untuk tidak bersikap emosi dan berkata kasar mengetahui kekhilafan yang saya lakukan tanpa sadar dan sesungguhnya tidak saya niatkan untuk menistakan suatu agama dijadikan alat untuk membuat saya duduk di kursi pesakitan. Apalagi hari ini saya baca artikel investigasi allan Nairn bahwa kasus al maidah ini hanyalah gorengan kelompok tertentu untuk menutupi upaya makarnya kepada presiden terpilih , Joko Widodo. Mungkin jika saya basuki saya akan berteriak lantang "kenapa aku harus kalian korbankan?"
Mungkin jika saya adalah Basuki maka saya
juga akan marah dan kesal ternyata meski saya sudah bekerja keras dan
memperbaiki kota dalam 2 tahun terakhir ternyata bagi mayoritas warga
DKI Jakarta yang terpenting adalah persoalan agama dan etnis. Hal yang
mungkin tidak bisa saya atur karena Tuhan yang menakdirkan saya begitu.
Tapi saya tahu bahwa Basuki bukan saya. Ia
meski dikenal temperamental dan bicaranya lugas dan tegas namun tidak
mungkin berpikiran sedangkal saya.
Pak, Bapak sudah mengabdi banyak bagi DKI
Jakarta. Menumbuhkan kekaguman, rasa nyaman, dan bahkan iri hati bagi
warga di wilayah lain. Ternyata ada Kepala Daerah yang sukses membangun.
Menata kota menjadi indah dan nyaman bisa dilakukan asal ada kemauan.
Memberantas korupsi bisa asal ada ketegasan.
Kekalahan Pak Basuki buat saya adalah
tamparan. Ternyata sistem pendidikan bangsa ini belum banyak berhasil.
Masih banyak golongan masyarakat yang belum bisa berpikir logis dan
cerdas. Masih banyak yang menciut ditakuti ancaman kerusuhan atau
ditutupnya pintu surga untuk mereka. Orang-orang yang hanya melihat
latar belakang tanpa melihat kompetensi kerja seseorang. Jakarta (bahkan
mungkin Indonesia) ternyata belum siap diajak maju. Saya kira warga
ibukota sudah tak lagi primitif, tapi kedangkalan pemikiran itu hari ini
masih terbukti.
kekalahan bapak ini juga menjadi teguran dana ketakutan bagi kami sejujurnya. Ini kemenangan kelompok radikal. Barisan sakit hati, dan segerombolan tamak kekuasaaan yang tersingkiri sejak presiden jokowi berkuasa kami takut keberhasilan ini akan mereka terapkan juga nanti di pemilihan presiden 2019.Kalau jakarta saja bisa di obrak-abrik bagaimana nasib NKRI kalau satu Indonesia harus mengalami seperti yang di lamai jakarta saat ini ? ini momok ternyata jualan agama jauh lebih penting daripada prestasi. Bagaimana Indonesia akan maju jika nanti dimana-mana pemimpin yang terpilih juga dengan cara seperti ini?
Maaf ya Pak Basuki, saya sangat sedih hari ini. Ibarat pasangan sudah
dijanjikan akan naik ke pelaminan, sudah booking vendor, sudah lamaran,
tiba-tiba pacar memilih orang lain untuk diajak ke KUA. Kira-kira
seperti itu perasaan saya saat ini. Ada sedikit umpatan “Biarkan Anies menang, biar warga Jakarta rasakan penderitaan dan penyesalan sebentar lagi.” tapi kok kasihan juga mengingat banyak teman saya yang juga kecewa dan pesimis dengan kekalahan Bapak.
Pak Basuki, kalau saya jadi Bapak mungkin saya tidak akan bekerja keras
dalam 6 bulan ke depan. Mungkin saya akan santai-santai saja di balik
meja di Balaikota sambil menyeleksi tawaran pekerjaan yang masuk. Biar
nanti Gubernur dan Wakil Gubernur baru yang besar cakap itu betul-betul
dituntut membuktikan kecakapan kerja mereka. Tapi saya tahu Bapak bukan
saya, saya yakin Bapak masih akan bekerja keras dalam 6 bulan ke depan.
Tuhan sangat menyayangimu, Engkau kalah bukan karena dipecat, bukan karena tersangkut OTT KPK, bukan karena melakukan wanprestasi, Engkau kalah karena suara keberpihakan. Semoga juga seiring hasil ini tekanan yang kau rasakan atas tuduhan penistaaan agama juga memudar, kami sudah tahu skema apa sesungguhnya itu semua, ini juga memberi tahu kami siapa sebetulnya sasaran serangkaian gerakan ini, bukan engkau tapi presiden kami tercinta, Engkau hanyalah tumbal.
Mengutip kata-kata terkenal dari Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia "Kita telah melawan, Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya"



0 comments:
Post a Comment